#Pangeran Cinta
Sang pembual bercerita tentang eloknya purnama. Ia serupa matahari, datang dari balik-bilik mega. Ia curi hatiku dengan sejuta pesona. Lalu ia pangkas ranting pohon jiwaku begitu saja. Ku tunduk menyerah dihadapannya. Sungguh, aku terpesona padanya.
Di siang hari kau isi ruang-ruang khayalku. Malamnya, kau hadir dalam mimpi-mimpiku. Rembulan ingin ku jadikan penggantimu. Akan tetapi, mana mungkin dirimu tergantikan sesuatu. Di kejauhan bayanganmu datang menghampiriku.
Kita bertemu, dan kau sisakan pilu. Tapi, sadarlah. Allah sudah atur siapa 'pangeran' nya, kita tunggu saja kapan dia datang ke istana.
Jatuh cinta. Apakah kita hanya bisa menyimpan rasa? Ingin kau apakan rasa itu? Menurutku rasa itu tidak usah dihilangkan. Kau akan selalu sibuk mencari bagaimana caranya. Menurutku rasa itu tidak usah dihindar. Karena semua manusia, begitu fitrahnya. Menurutku juga rasa itu tidak usah dihasratkan, dipenuhi setiap hari. Kau akan tenggelam lupa aturan. Curahkan saja. Ke Pemilik hati. Sibukan saja dirimu. Dengan amal baik. Kalau kamu yakin dan ikhlas, rasa itu tidak akan pernah mengganggu. Dan tidak akan pernah menyakiti. Kemudian berdoalah untuk kebaikan, hal-hal terbaik. Untuk dirimu dan dia.
Dalam pasalnya, mencintai sang pangeran cinta tidak boleh dengan nafsu. Apa yang kau inginkan? Ketampannya? Hartanya? Tahtanya? Kita lebih berharga dari sekedar ketampanan, harta, dan tahta seorang pangeran. Aku memang belum tahu bagaimana akhirnya. Tapi ada satu hal yang kusebut prinsip untuk mencintai sang pangeran cinta; ikhlas. Dengan niat ikhlas karena Allah, kau tak akan pernah lelah mencintainya.
Bagian terpenting adalah, jangan pernah mengorbankan cinta-Nya demi cintanya. Sebab Allah mencintaimu, dan itu pasti. Setiap hari. Sementara cintanya, tidak ada yang tau. Apakah bisa bertahan melewati bilangan waktu?

Comments
Post a Comment