Kala Pembelajaran Mengetuk Hatiku

 




Di kala pembelajaran datang menemuiku,

seringkali ia hadir begitu saja.

tanpa mengetuk pintu,

tanpa aba-aba,

tanpa tanda.

kadang kehadirannya membuatku terkejut,

terdiam, hingga kehabisan kata-kata.

Namun kali ini terasa berbeda.

Aku memilih untuk membuka tanganku lebar,

menyambutnya dengan perasaan hangat,

meresapi kehadirannya dengan penuh makna,

menatapnya tanpa lagi menyisakan keraguan.


"Hei," ujarnya suatu senja,

"Akhir-akhir ini kulihat senyummu lebih tenang, matamu lebih damai. 

Apakah kau tak lagi takut pada luka yang bisa saja tiba-tiba mengetuk hidupmu?"


Sore itu langit berwarna jingga,

laut berkilau memantulkan cahaya Sang Maha Kuasa

kami berdiri di bibir pantai, 

terhanyut dalam lukisan agung-Nya.

Aku menarik napas, tersenyum, lalu menjawab,

"Sekarang aku telah belajar, kawan...

Harapan-harapan baik itu kini kuletakkan dalam doa yang tak pernah putus,

dalam sujud yang tak pernah kosong.

Aku memasrahkan seluruh hidupku hanya pada-Nya."


"Termasuk tentang dia?" bisiknya lembut.

"Seseorang yang begitu sering kau ceritakan padaku?"


Aku terdiam,

lalu menghela napas yang berat namun lapang.

"Aku akan selalu mendukungnya,

mendoakannya di sisa hidupku,

menyemangatinya, memberinya kekuatan selagi masih berkesempatan.


Jika dia adalah jawaban dari doa-doaku,

maka aku akan menenggelamkan diriku dalam lautan syukur.

Namun jika takdir berkata lain,

aku akan tetap mendoakan kebaikan-kebaikan untuknya,

sampai kapan pun."


Pembelajaran hanya diam.

Ia menengadah ke langit dengan tatapan haru.

Gadis yang dulu dikenalnya sebagai remaja labil,

kini telah beranjak dewasa dengan pemikirannya yang menawan.


"Dan di antara riak-riak ombak sore itu, aku tahu: aku tak lagi sama. Aku sedang belajar, dan akan terus belajar—tentang ikhlas, tentang cinta, tentang hidup."

Comments

Popular Posts