Chapter 1- Antara Cinta dan Dusta
"Jadi
apakah kamu mencintainya?" tanya Ana dengan suara serak yang samar-samar
terdengar oleh deru ombak.
Hening.
Tak ada jawaban dari gadis itu. Yang ada hanyalah suara desiran angin malam
yang semakin kencang berhembus.
"Hei,
aku bertanya padamu," kata Ana sambil mengibaskan tangannya di depan muka gadis itu.
Tiga
menit berlalu, gadis itu akhirnya menjawab dengan lemah, "Aku hanya takut
An..."
"Takut?
Kenapa harus takut?" Ana sedikit kebingungan dan ingin menanyakan
pertanyaan demi pertanyaan yang mulai bermunculan di kepalanya.
"Aku
takut... cinta ini tak lagi murni," bisik gadis itu, suaranya bergetar di
antara deru ombak. "Yang aku takutkan adalah cintaku tak lagi berlandaskan
kepada Allah, melainkan hanya pada salah satu hamba-Nya." Gadis itu
menyeka air matanya perlahan. Pandangannya tak henti menatap cahaya bulan yang sedang bersinar dengan pucat.
"Aku
merasa cinta Allah sudah cukup bagiku, An.." bisik gadis itu pelan.
Ana
tergugu lama, ada banyak pertanyaan di dalam hatinya yang menyerbu
lebih keras daripada ombak. Apakah itu benar-benar cukup—atau ia hanya berusaha
meyakinkan dirinya sendiri?
Beberapa
menit kemudian Ana masih duduk terpaku, membiarkan angin laut meniupkan
rambutnya yang mulai kusut. Kata-kata gadis itu terngiang-ngiang di
kepalanya. Cinta Allah saja sudah cukup bagiku. Tapi mengapa
matanya tetap basah dan suaranya bergetar?
“Kamu
yakin?” akhirnya Ana berbisik, suaranya hampir kalah dengan suara ombak.
Gadis
itu terdiam. Bulan menggantung redup di langit, seakan ikut menyaksikan
pertempuran batin yang tak kunjung usai. Ada jeda panjang sebelum bibirnya
bergerak, tapi kata-kata tak sedikitpun kunjung keluar.
Di
antara keheningan itu, Ana menyadari bahwa terkadang jawaban yang paling jujur bukanlah
yang diucapkan, melainkan yang dipendam dan terbungkus oleh waktu.
------------------------------------
Comments
Post a Comment