Chapter 2- Hujan dan Tangisan


Jam menunjukkan pukul 10 lewat 15 menit. Angin malam berhembus dingin, membawa aroma asin laut. Ana berdiri di tepi pantai, menatap gadis itu yang masih terdiam, sementara awan hitam mulai menelan cahaya bulan yang pucat, meninggalkan malam yang muram.

“Pulang yuk, sepertinya akan hujan,” ujar Ana sambil menggenggam lengan gadis itu. Tapi tak ada balasan. Detik berikutnya, tubuh gadis itu lunglai dan jatuh menimpa pasir, membuat jantung Ana seakan berhenti.

Panik, Ana berteriak sekuat tenaga, berharap ada orang yang mendengar, tapi pantai itu sunyi, hanya terdengar suara ombak dan desah angin. Tanpa pikir panjang, Ana menggendong gadis itu, setiap langkah terasa berat, tetapi naluri melindungi sahabatnya lebih kuat dibanding apapun.

“Nak, ada apa dengan temanmu?” terdengar suara perempuan yang menghentikan langkah Ana.

“Oh Tuhan, terima kasih… terima kasih banyak,” gumam Ana, menatap langit gelap sambil berkomat-kamit dalam doa, air matanya mulai menetes.

“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya perempuan itu dengan senyum hangat yang menenangkan.

“Tidak, Bu. Sahabatku tiba-tiba pingsan di tengah pantai tadi,” jawab Ana sambil menggenggam tangan gadis itu erat-erat.

“Baiklah, mari kita bawa ke rumahku. Anakku seorang dokter, dia bisa membantu,” kata perempuan itu.

Dengan hati-hati, mereka membopong gadis itu menuju rumah seorang wanita paruh baya. Sesampainya di sana, gadis itu dibaringkan di atas kasur praktik. Suasana ruangan hangat, akan tetapi ketegangan tetap terasa.

“Apakah gadis ini punya riwayat penyakit sebelumnya?” tanya dokter muda sambil menyiapkan stetoskop.

“Seingatku, dia sering terkena anemia, dok. Hb-nya sering tidak normal,” jawab Ana, suaranya bergetar.

“Baiklah, saya periksa dulu,” kata dokter. Beberapa menit kemudian ia terlihat sibuk menelepon dan bergerak mondar-mandir, sementara Ana hanya bisa menahan napas, menatap tubuh gadis itu dengan cemas.

“Kondisi pasien ini darurat. Saya tidak bisa menolongnya di sini karena keterbatasan alat. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit kota,” ujar dokter, menatap Ana dengan serius.

Ana terkejut mendengar informasi itu, dadanya berdebar tak menentu. Sepanjang perjalanan, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi pipinya yang pucat. Dokter di sampingnya menyodorkan tisu, menenangkan dengan suara lembut, “Tenang, sahabatmu akan baik-baik saja,” sambil menekan pedal gas, mempercepat laju mobil.

Di luar, hujan mulai menetes pelan, kemudian berubah menjadi rintik deras. Angin malam menderu, mengguncang mobil kecil itu. Tapi Ana tak menghiraukan semuanya—pandangannya tertuju hanya pada sahabatnya, berharap gadis itu baik-baik saja walau nyatanya tidak demikian.



                                                              -----------------------------

Comments

Popular Posts